Profile / report

Dr. Sonja Roesma SKM.

Pada suatu pagi kami tim bulletin perwatusi mendapat kesempatan untuk wawancara dengan Dr. Sonja Roesma di kediamannya di Pondok Hijau III.

Dr. Sonja Roesma dilahirkan di Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tanggal 7 November 1936. Orang tua dr Sonya ini berasal dari Sumatera Barat dan Jerman. Dr Sonya Roesma memiliki 3 orang anak dan 6 orang cucu.

Di PERWATUSI Dr, Sonja merupakan salah satu dari 7 anggota IWLR. Sehari-hari Dr. Sonja sebelum mengawali kegiatannya biasanya berolahraga terlebih dahulu supaya tidak osteoporosis. Dr. Sonja mengawali karier dokternya di departemen kesehatan dari tahun 1966-1988, kemudia bekerja di WHO sebagai Regional Advisor di India pada tahun 1988-1990, kemudian dipanggil kembali oleh menteri ke Indonesia sebagai Direktur Utama PT. Askes dari tahun 1991-2000. Sekarang Dr, Sonja ini selain di PERWATUSI masih menjabat komisaris di salah satu perusahaan distribusi obat dan alat kesehatan seluruh Indonesia.

Ny. Soeharti Soesilo Hardjoprakoso

Ny. Soeharti Soesilo Hardjoprakoso, wanita asal Jakarta ini adalah ibu dari 4 orang anak dan nenek dari 4 cucu serta seorang cicit. Diusianya yang sudah menginjak 83 tahun beliau masih mengisi hari-harinya dengan berbagai macam kegiatan, diantaranya mendalami agama, mengikuti senam otak dan bridge, aktif di Yayasan Jantung dan uga aktif di PERWATUSI.

Awal mula bergabung dengan PERWATUSI adalah saat usia 70 tahun beliau bertemu dengan dr Sadoso dan menyarankan untuk mengikuti senam osteoporosis, tidak hanya mengikuti senamnya tapi beliau juga tercatat sebagai Dewan Kehormatan PERWATUSI.

Ibu Alwiesma IA Rachman

Ibu yang satu ini adalah mantan Ketua Umum PERWATUSI periode 2007-2010, masih terlihat enerjik saat ditemui oleh tim bulletin Perwatusi. Ibu dengan nama lengkap Alwiesma I.A Rachman adalah istri dari Prof. Dr. dr. Ichramsjah A. Rachman SpOG(K), akrab dengan sapaan sebagai Ibu Wies. Ibu Wies memiliki 3 orang anak terditi dari 2 laki-laki dan 1 perempuan serta telah memiliki 3 cucu perempuan yang cantik dan lucu. Sehari-hari Ibu Wies ini selain sibuk sebagai Ibu rumah tangga, adalah Ketua IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia) cabang Jakarta Pusat dan sebagai ketua RT 005/RW 007 di tempat tinggalnya.

Awal mulanya bergabung dengan Perwatusi adalah di saat beliau mengikuti suami yang saat itu sedang mengambil S3 tentang osteoporosis dengan riset memakai monyet (macaca) di kampus IPB Bogor. Melihat dampak buruk yang diakibatkan oleh osteoporosis, Ibu Wies merasa terpanggil jiwanya untuk menyebarluaskan osteoporosis ini, agar masyarakat tahu, peduli dan waspada terhadap osteoporosis.

Ibu Wies menghimbau agar kaum muda sebaiknya menjaga kesehatannya antara lain dengan mulai dari sekarang, menabung massa tulang semasa muda agar tercapai puncak massa tulang maksimal dengan cara :

- Beraktifitas dan latihan fisik secara rutin

- Menjaga asupan makanan dengan kalsium yang cukup

- Cukup paparan sinar matahari di bawah jam 9.00 pagi

- Hindari rokok, alcohol dan kopi. Bagi yang sudah menderita osteoporosis hubungilah dokter, yang akan memberikan arahan yang tepat agar terhindar dari memburuknya massa tulang yang akan berakibat patah tulang.